Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Selasa, Agustus 24, 2010

Perut

Mencari yang haram aja susah, apalagi yang halal” begitulah kira-kira pernyataan yang sering kita dengar terkait dengan masalah kebutuhan sehari-hari yang notabene adalah asupan perut kita. Demi perut manusia saling sikut, jegal sana-sini, korupsi, tipu kanan-tipu kiri, mencuri, merampok, semua hal dilakukan bahkan rela mati demi tuntutan kebutuhan perut. Sehingga wajar bila seorang tokoh sosialis-komunis, Karl Mark berpendapatfaktor penyebab munculnya berbagai pertentangan dan kekacauan di antara sesama manusia adalah hal-hal yang berhubungan dengan perut”.

Kenapa masalah perut begitu rumit? Mengapa hanya untuk memenuhi penampung 1 liter makanan saja harus melanggar ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh Allah SWT?
Fitrah Manusia
Pada dasarnya perut merupakan satu bagian dari bagia-bagian tubuh manusia, Seperti anggota tubuh lainya, perut mempunyai peran penting, organ yang satu ini selain tempat menampung dan mencerna makanan, juga menjadi tempat terjadinya metabolisme tubuh.
Secara fungsional seperti itulah tugas perut kita, sebagai tempat untuk memproses makanan sehingga makanan bisa diserap dan mampu dimanfaatkan oleh organ-organ tubuh kita yang lain.
Namun, bila kita cermati lebih mendalam, organ yang satu ini sangat aneh, kendati berdiameter kecil, tetapi bila kemauannya senantiasa dituruti, maka seluruh isi dunia ini akan pula ditelan habis.
awalnya hanya mencari sepiring nasi, lalu keinginan menyimpan untuk hari esok, meningkat lagi ingin menimbun untuk hari tua, bahkan keinginan mewariskan untuk anak keturunan hingga generasi ke-7.
Tak ayal berangkat dari perut ini muncullah ideologi kapitalisme dan imperialisme, manusia menguasai manusia, manusia memperbudak sesamanya. Dari dahulu hingga detik ini.
Karena tak terbatasnya “bahasa perut” ini, lebih dari 30 ayat dalam al-Qur’an menyebut pentingnya umat Islam menjaga dan memperhatikan makanannya. Islam menginginkan agar kaum muslimin sebagai umat terbaik tetap terpelihara.
Maka dari setiap suap makanan yang masuk kedalam perut mereka, diharapkan menambah kebaikan dan kemuliaannya. Hasilnya adalah ketakwaan dan amal sholeh. al-Qur’an menjelaskan diantaranya,”Hai orang-orang yang beriman! Makanlah diantara rezeki yang baik-baik kami beikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.”(al-Baqoroh[2]: 172.
Allah memberikan tuntunan yang demikian detil karena keinginan perut kerap melampui batas. Maunya aneh-aneh, inginnya berpetualang ke penjuru rasa, jenis dan jumlahnya pun kalau bisa tidak terbatas.
Dalam kitab Minhaj al-'Abidin, Imam Ghazali mengingatkan agar seorang Muslim mampu menjaga perutnya, terutama dari dua hal ini. Pertama, dari semua perkara yang haram dan syubhat. Kedua, dari berfoya-foya atau berpuas-puas diri meskipun dari perkara yang halal.
Larangan pertama harus dijauhi, karena dalam Islam pemakan barang haram diancam dua keburukan besar. Pertama, siksa api neraka. Firman Allah, ''Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).( An-Nisa' [3]: 10).
Kedua, ibadah dan kebaikannya tertolak (mathrud). Hal ini karena Allah SWT adalah Allah Yang Mahasuci. Ia tidak akan menerima kecuali hamba-Nya yang suci. Pemakan barang haram, karena kotor tak mungkin mendapat ridha Allah, meski ia beribadah siang dan malam. Sabda Rasulullah SAW, ''Siapa makan barang haram, maka Allah tidak akan menerima semua ibadahnya, wajib maupun sunat.'' (HR Dailami)
Larangan kedua, berfoya-foya atau berpuas-puas diri harus pula dijauhi karena hal ini mengandung keburukan-keburukan yang amat banyak. Imam Ghazali menyebutkan sepuluh keburukan. Di antaranya, hati orang yang berbuat berfoya-foya menjadi keras dan mati. Ibarat tanaman, kalau terendam banjir, ia pasti mati. Berikutnya, ia cenderung lapar dan cenderung melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah. Berikutnya lagi, ia cenderung malas beribadah. Karena terlalu kenyang, ia menjadi berat hati dan malas melakukan kebaikan-kebaikan.
Dengan Puasa
Saat ini kita berada dalam bulan suci Ramadhan, Ramadhan disebut dengan syahr Tarbiyah, bulan pendidikan, atau bulan pelatihan, yaitu mendidik dan melatih manusia untuk mampu mengendalikan diri (nafsu)-nya.
Secara umum, para fuqaha mendifinisikan bahwa puasa adalah kegiatan menahan diri dari makan, minum dari mulai terbit fajar hingga terbenam matahari. Jadi konsep dasar puasa memang untuk perut. Bukan berarti mengenyampingkan yang lain, sebab jika hal ini tidak bisa dikendalikan, maka nafsu selainnya juga tidak akan terkendali ketika berpuasa. Seperti seseorang yang mampu menahan pandangannya ketika puasa, sementara ia tidak mampu menahan perut, seperti makan, minum, jelas puasanya batal.
Semoga puasa yang kita lakukan dapat memberikan kekuatan kepada kita untuk senantiasa mampu mengendalikan nafsu perut sesuai dengan perintah Allah, bukan hanya ketika berpuasa tetapi dalam setiap langkah kita menelusuri jalan pendek di dunia ini, sebagai langkah awal untuk senantiasa menyucikan diri.

Jumat, Juni 18, 2010

AWAS !, PIALA DUNIA, ‘MENENDANG’ PALESTINA



Terhitung semenjak tanggal 11 Juni 2010, pesta sepak bola piala dunia telah dimulai. Hampir semua sorot mata manusia, memfokuskan perhatian pada ‘hajatan’ empat tahunan ini, tak terkecuali mereka yang negaranya tidak lolos untuk mengikuti kompetisi, Indonesia, misalnya. Mereka larut dalam pesta bola, mendukung Negara yang mereka unggulkan, sekalipun harus bergadang hingga larut malam.Selain itu, media masapun ikut berperan aktif dalam ‘memprovokasi’ mereka agar tidak mengalihkan perhatian pada piala dunia, yang kali ini diselenggarakan di Afrika Selatan.

Hal itu dibuktikan dengan dimuatnya berita-berita seputar piala dunia di halaman utama. Terlebih lagi, ketika yang mengalami kekalahan/imbang adalah tim-tim unggulan semacam Inggris, bahasa yang digunakan semakin provokatif, sehingga para penikmat berita, semakin penasaran dibuatnya, yang kemudian menimbulkan keinginan untuk selalu mengamati dan mengamati proses jalannya pertandingan demi pertandingan. Tidak cukup di situ, yang dijadikan tema sentral dalam setiap bahasan, diskusi di warung, tempat umum adalah hal-hal seputar bola. Fenomena macam ini tentu saja sangat mengkhuatirkan, terkhusus terhadap permasalahan politik dunia yang sedang berkembang, terutama di Palestina. Sebagaimana telah jamak diketahui, di tengah-tengah kehidupan yang -katanya- sarat akan demokratis ini, nun jauh di sana, terdapat sebuah negeri yang masih mengalami penindasan/penjajahan oleh zionis Israel, yaitu Palestina. Jutaan warga negaranya setiap saat bisa terancam. Kasus penyergapan kapal Mavi Marmara beberapa waktu lalu, sempat membuka mata dunia, betapa Israel sejatinya bersikukuh untuk memusnahkan negeri para Anbia’ ini dari peta dunia, hatta para relawan misi kemanusiaan yang membawa bahan bantuan, pun harus disergap dan dizarah isi kapalnya. Sungguh sangat memilukan!.Kalau saja para masyarakat dan media masa dunia lebih terpesona dengan menyajikan berita seputar piala dunia, dan ‘menganaktirikan’ berita yang ada di Palestina, bisa jadi para zionis Israel secara diam-diam mengadakan makar untuk menyerang/membantai para warga di sana (Gaza), sedangkan kita tidak mengetahui gelagat tersebut, dikarenakan terperdaya oleh hiruk-pikuk gemerlap piala dunia. Alhasil, palestina merana (tanpa sepengetahuan kita), sedangkan kita sendiri asyik menonton piala dunia seraya berteriak “goal!”, ketika bola bersarang ke salah satu gawang salah satu kesebelasan. Tentu saja kita (umat Islam) tidak menghendaki peristiwa ini akan terjadi. Tapi, hal ini bukanlah suatu yang mustahil, di tengah sorotan media internasional saja, mereka (Israel) berani membajak kapal misi kemanusiaan untuk Gaza yang terdiri dari 700 relawan dari 50 negara, apa lagi, dalam situasi saat ini, media masa dan masyarakat dunia tengah ‘konsentrasi’ memperhatikan perhelatan piala dunia. Tragedi bombarder yang dilakukan oleh Israel di Gaza, pada penghujung 2008 silam, juga bisa dijadikan bukti lain, yang mengharuskan kita untuk berantisipasi akan terjadinya pristiwa berdarah untuk yang kesekian kalinya.
Sebab itu, janganlah kita lalai untuk memperhatikan urusan kaum muslimin di sana (Gaza), hanya karena bola. Dan iringilah mereka dengan do’a, (sebuah upaya minimal) agar Allah membebaskan mereka dari cengkraman musuh-musuh, zionis Israel, dan sekutu-sekutunya, sehingga lahirlah negara Palestina yang berdaulat, makmur, dan sejahtera. Ingat ancaman Rosulullah, bahwa siapa saja yang tidak pernah memikirkan perkara-perkara kaum muslimin, maka mereka bukanlah termasuk dari golongan agama ini (Islam). Wallahu’alam bis-shawab

Selasa, Mei 11, 2010

Indonesia Menuju Kehancuran

Pemilihan Bupati (Pilbup) yang akan diadakan oleh beberapa daerah di Indonesia sudah semakin dekat. Bursa pemilihan calon pemimpin tingkat kabupaten ini mulai di ramaikan oleh para Calon Bupati (cabup) dan Calon Wakil Bupati (cawabup) dari berbagai latar belakang dengan kendaraan Partai Politik (parpol) masing-masing.
Naifnya, di beberapa daerah, ada beberapa partai politik justru mengusung cabup dan cawabup dari kalangan artis seronok erotis. Sekedar menyebut nama mereka adalah Julia Perez cawabup Pacitan, Inul cabup Malang, dan Ayu Azhari cawabup Sukabumi bahkan Maria Eva yang pernah tersandung kasus ‘Video mesum” menjadi cabup kabupaten Tanah Karo.

Terpilihnya mereka menjadi cabup ataupun cawabup bukanlah tanpa alasan, mengingat satu sisi parpol sudah berkali-kali mencalonkan atas dasar kualitas, namun tetap gagal. Kenyataan inilah yang membuat parpol bingung dan berpikir ulang bahkan mereka menjadi cenderung pragmatis dengan memilih figur yang telah dikenal masyarakat, dan pilihannya jatuh pada artis atau selebritis.
Pragmatisme politik dengan memilih calon pemimpin hanya mengutamakan popularitas jelas tidaklah benar. Mengingat dalam Islam memilih pemimpin adalah hal yang prinsip sehingga tidak bisa memilih pemimpin asal-asalan.
Al baqillani seorang tokoh pemikir politik Islam mensyaratkan bahwa pemimpin haruslah yang terbaik diantara yang ada. Artinya, seorang pemimpin itu haruslah orang yang memiliki kompetensi dalam bidang kepemimpinan juga memiliki akhlak yang terbaik diantara yang lain.
Kasus pengangkatan artis seronok erotis menjadi cabup dan cawabup di beberapa daerah di Indonesia jelas sebuah kesalahan, karena bukan hanya mereka itu adalah wanita, tetapi mereka juga tidak memiliki kompetensi dalam bidang kepemimpinan bahkan mereka memiliki latar belakang artis seronok, porno yang sangat tidak patut untuk dijadikan uswah.
Jika mereka benar-benar terpilih menjadi bupati atau wakil bupati di daerahnya masing-masing maka dampak yang harus kita waspadai adalah tren parpol mengangkat artis seronok erotis bahkan bintang porno akan semakin menjadi-jadi. Sehingga bukan mustahil suatu saat bursa penilihan calon pemimpin di negeri ini diramaikan oleh mereka yang termasuk dalam golongan orang-orang popular tetapi tidak memiliki kapabilitas dalam memimpin. Sehingga bukan mustahil jika Indonesia kedepan akan menuai kehancuran.
Rasulullah SAW berabda; barang siapa yang menyerah suatu urusan bukan pada ahlinya maka tunggulah kehancurannya.

Selasa, Maret 16, 2010

Tradisi Ilmu, Kejatuhan dan kejayaan Suatu Bangsa

Tidak dapat dipungkiri bahwa kaum muslimin sangat maju karena tradisi Ilmunya, bahkan kejayaan ilmu pengetahuan dijaman kejayaan Islam telah mempengaruhi secara signifikan pertumbuhan peradaban barat. Tapi kini umat Islam terjatuh, menjadi bangsa yang tidak disegani bahkan menjadi bulan-bulanan bangsa barat, hal ini mirip dengan apa yang di isyaratkan Nabi 14 abad silam “akan datang suatu masa dimana umat islam ibarat makanan yang diperebutkan”.

Milik Islam
Tradisi ilmu dalam Islam sebenarnya telah diproklamirkan sejak ayat pertama dalam al Qur’an diturunkan. Iqro’, ‘Bacalah” telah merubah sahabat-sahabat Rasulullah dari orang–orang jahiliyyah yang suka mabuk-mabukan, berzina, dan berleha-leha menjadi pemimpin besar dunia yang sangat disegani diseluruh kawasan dunia saat itu.
Pada masa itu tradisi baca dan menulis sangat hidup. Tiap ayat yang diturunkan pada Nabi, segera diajarkan kemudian dihapalkan bahkan Nabi menunjuk Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit dan sahabat yang lain untuk menuliskan setiap ayat al-Qur’an yang turun pada beliau. Bahkan pada masa awal permulaan Islam, tradisi membaca dan menulis menjadi symbol kemuliaan. Ibnu saad mengatakan bahwa orang yang sempurna adalah orang yang dapat menulis, berenang dan melempar panah.
Hal lain yang membuktikan betapa pentingnya budaya baca tulis bagi umat islam adalah, pasca perang badar kubro dimana pada saat itu umat Islam mengalami kemenangan besar, selain harta rampasan perang umat Islam juga berhasil menawan beberapa tentara dari kaum quraisy. Satu hal yang menakjubkan terjadi pada diri Rasulullah beliau memberikan jaminan kebebasan bagi para tawanan yang dapat mengajarkan baca tulis bagi penduduk Madinah.
Semangat para sahabat Nabi dalam mencari Ilmu semakin tinggi, berkat pemahaman terhadap al-Qur’an yang dalam banyak ayat memerintahkan pada umatnya untuk senantiasa menggunakan akalnya. Juga dalam ratusan hadits Nabi berisi pujian terhadap orang-orang yang berilmu. Diantaranya sabda Rasulullah SAW: “Barang saiapa pergi mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya ke Surga”. (HR Imam Ahmad).
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa banyak sahabat yang tinggal di suffah (asrama tempat belajar) jumlah mereka mencapai 900 orang, mereka mempelajari dan metafakkuri setiap ayat yang turun juga hadits-hadits Nabi SAW. Tempat ini ibarat Universitas tempat dimana kaum muslimin menggali ilmu-ilmu keislaman.
Setelah itu, generasi berikutnya juga demikian: Abu bakar Al Anbari membaca setiap pecan sebanyak 10 ribu lembar, sehingga beliau sering sakit dan membawanya pada kematian. Ibnu Al Jauzi menulis lebih dari seribu judul buku. Imam Ahmad pernah menempuh perjalanan ribuan kilometer untuk mendapatkan satu hadits. Imam Syafi’i pernah terjaga semalaman sampai tiba waktu fajar demi mempelajari saru hadits dan satu masalah, begitu juga Al Mizzi, Ibn Katsir, Ibn al Qayyim al Jauziyyah, Ibnu Hajar, al Suyuthi dan ulama besar lainnya, menyisihkan lebih dari 15 jam per hari untuk membaca dan menulis, sehingga melahirkan karya-karya yang monumental setingkat Ensiklopedi.
Wajarlah jika islam pada saat itu menjadi peradaban maju dan kuat karena ditopang oleh manusia-manusia kuat dalam membiasakan tradisi keilmuan dalam kehidupan sehari-hari.
Kejatuhan dan Kejayaan
Prof. Moh Nur Wan Daud menyatakan bahwa kaejayaan atau kejatuhan suatu bangsa tergantung pada kuat atau tidaknya budaya ilmu bangsa itu. Hal ini dapat dibuktikan bahwa suatu individu atau suatu bangsa yang mempunyai kekuasaan atau kekayaan tidak bisa mempertahankan miliknya atau mengembangkannya tanpa budaya ilmu yang baik. Bahkan ia akan bergantung pada orang kepada orang atau bangsa lain yang lebih berilmu. Salah satu contohnya adalah bangsa Yunani, hasil keilmuan bangsa ini mempunyai pengaruh sangat besar terhadap Roma yang nota bene memilki tentara dan rakyat yang lebih besar. Contoh lain, kita juga bisa melihat fenomena tentang Negara-negara minyak yang kaya raya, terpaksa terpaksa bergantung hamper semua aspek penting kehidupan negaranya kepada Negara lain yang lebih maju dari segi keilmuan dan kepakaran.
Di jepang, pendidikan adalah jalan terpenting untuk mendaki tangga kesuksesan. Para remaja dan pelajaran disajikan dengan kisah-kisah keberhasilan orang-rang dari timur dan barat. Contohnya buku “Yukichi Fukuzawa”, galakkan Belajar. Dijual sebanyak 600.000 eksemplar pada tahun 1882. dalam buku itu dijelaskan bahwa; Manusia tidak dilahirkan mulia atau hina,kaya atau miskin, tetapi dilahirkan sama engan yang lain. Barang siapa yang gigih belajar dan menguasai ilmu dengan baik akan menjadi mulia dan kaya, akan tetapi mereka yang jahil akan papa dan hina.
Jadi, tidak ada kata lain bahwa kebangkitan Islam, kebangkitan Negara, masyarakat atau individu muslim mesti dimulai dengan kebangkitan budaya ilmu. Karena kepemimpinan yang benar adalah kepemimpinan berpikir, bukan kepemimpinan ekonomi militer. Peradaban dunia saat ini yang mengunggulkan kepemimpinan ekonomi atau militer, maka hasilnya kita lihat adalah peradaban yang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Banayak Negara yang egois dengan nasionalismenya Negara masing-masing, sehingga rela memperdaya Negara-negara lain.
Jadi, jangan bermimpi umat Islam akan memimpin dunia, bila tradisi ilmu belum membudaya dalam masyarakat Islam sendiri

Jumat, Maret 12, 2010

Menanti Figur ‘Wali’ di Pilwali Surabaya

Pemilihan Walikota (pilwali) Surabaya baru akan dilaksanakan pada pertengahan tahun 2010, namun, bursa calon dan hal-hal yang berbau kampanye, mulai terasa dalam beberapa bulan terakhir ini. Hal tersebut bisa dilihat dari banyaknya baliho besar dan spanduk calon Walikota dan Wakil Walikota yang terpampang di sudut-sudut jalan kota Surabaya.
Selain itu, momen lima tahunan ini banyak mengundang perhatian masyarakat Surabaya, karena peluang untuk mendapatkan pemimpin baru sudah dekat. Masyarakat Surabaya berharap Pemilihan Walikota 2010 akan membawa perubahan yang mendasar bagi mereka. Mungkinkah?

Walikota Idaman
Kata “perubahan” menjadi kata kunci yang memicu masyarakat Surabaya antusias menyongsong hajatan ini. Hal ini bisa kita maklumi karena Surabaya adalah kota Metropolitan dengan segudang permasalahan dan memerlukan solusi-solusi cerdas serta komprehensif untuk mengatasinya.
Untuk itu dalam pilwali ini diharapkan muncul calon yang memang benar-benar mampu melihat situasi, menginventarisasi masalah, dan merumuskan serta mewujudkan solusi. Selain itu, yang lebih penting lagi calon walikota itu harus benar-benar ‘wali’, yaitu orang yang sangat menjaga ketaatan kepada Allah SWT, sehingga senantiasa mendapatkan pertolongan Allah Swt.
Tapi, siapakah wali itu?”Ingatlah! Sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak merasa takut dan sedih. Mereka adalah orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira dalam kehidupan dunia dan kehidupan akhirat,” (QS Yunus ayat 10). Dari ayat tersebut, wali adalah orang yang beriman kepada Allah dan apa yang datang dari-Nya (yaitu Al Qur’an dan Hadits), memegang teguh syariat-Nya.
Ibnu Katsir rohimahulloh menafsirkan bahwa para wali Allah adalah orang-orang yang beriman dan bertaqwa. Siapa saja yang bertaqwa maka dia adalah wali Allah (Tafsir Ibnu Katsir, 2/384).
Dari ayat di atas telah jelas apa dan siapa wali itu, tapi pertanyaan selanjutnya adalah mengapa harus wali? Apa urgensinya jika pucuk pimpinan kota surabaya ini di pegang oleh orang yang bertipe wali?.
Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya Allah SWT berfirman
” Barang siapa yang memusuhi para Wali-Ku maka Aku menyatakan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekati-Ku dengan sesuatu yang lebih Kucintai daripada apa yang telah Aku wajibkan. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekati Aku dengan Ibadah sunah sehingga aku mencintainya, maka ketika Aku mencintainya Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Seandainya ia meminta kepada-Ku niscaya akan Ku-beri seandainya dia memohon perlindungan-Ku pasti Aku akan melindunginya”
Hadits Qudsi diatas menjadi jawaban akan pentingnya seorang pemimpin berfigur wali, karena, sikapnya yang senantiasa menjaga diri dari dosa dan maksiat, hati-hati, serta selalu mendekatkan diri pada Allah SWT sehingga Allah-lah yang menjadi Penjaganya. Allah mengatur hati dan jasadnya sehingga ia menjadi pemimimpin yang taat kepada Allah SWT.
Disaat dirinya sudah senantiasa dekat dengan Allah, maka selanjutnya dia menginginkan agar seluruh rakyatnya memilki ketaatan yang sama seperti yang telah ia amalkan, kemudian ada usaha yang dilakukan dengan terus-menerus untuk merealisasikan keinginan ini secara istiqomah, maka tidak mustahil nantinya akan telahir masyarakat Madani yang tidak hanya taat pada hukum Allah SWT tetapi juga taat pada hukum Pemerintahan, pada akhirnya akan terbentuk Masyarakat yang Baldatun Toyyibatun Warabbun Gofur.
 
Pilah Lalu Pilih
Pemilihan Walikota Surabaya akan menjadi even yang sia-sia bila masyarakat tidak menyadari akan pentingnya seorang pemimpin. Mengingat dalam satu dekade diberlakukan pemilihan secara langsung (baik Pemilihan legislatif maupun eksekutif), selalu diakhiri dengan dominasi golongan putih (tidak memilih).
Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah sampai pada kesimpulan bahwa memilih pemimpin yang memiliki kriteria di atas (sesuai dengan syari’at) itu wajib bagi Umat Islam. Oleh karena itu, selayaknyalah bagi masyarakat Surabaya yang sebentar lagi akan menghadapi pilwali untuk melihat/meneliti background dari para cawali dan cawawali yang ada, kemudian pilihlah mereka yang sekiranya memiliki kriteria-kriteria yang telah dijelaskan di atas. sehingga, kelak kemudian hari, ketika di antara mereka telah menjadi pejabat, mereka benar-benar mencerminkan sosok ‘wali’ Allah yang memimpin kota metropolitan ini dengan adil dan jujur.

Senin, Februari 15, 2010

Pagar Istana, Urgen atau Dramatisasi Kepentingan

Kurang peka, itulah kira-kira kesan yang ditunjukkan pemerintah kita akhir-akhir ini. Ditengah semakin merosotnya tingkat kepuasan public terhadap kepemimpinan Sby-Boediono (www. VIVAnews.com, Sabtu, 23 Januari 2010), mereka justru kembali menghambur-hamburkan uang Negara hanya untuk mebangun pagar Istana Negara.
Tidak tanggung-tanggung, anggaran yang di gunakan mencapai Rp 22,581 M. Dana sebanyak itu digunakan untuk, penyediaan dana keperluan renovasi pagar halaman dan pemasangan alat sekuriti di lingkungan Istana Kepresidenan.

Memperburuk citra
Menurut peneliti hukum dan politik anggaran Indonesia Budget Center (IBC) Roy Salam, menggunakan biaya sebesar 22,581 M untuk membangun pagar Istana itu sangat berlebihan. mengingat, jika di bandingkan dengan pembangunan pagar Monas yang luasnya mencapai 3 kali lipat Istana Presiden, hanya menghabiskan dana sebesar Rp 10 miliar. Patut dipertanyakan mekanisme tendernya bagaimana, karena proyek ini dilakukan tidak transparan
Tidak bisa di pungkiri, keamanan Istana sangatlah penting, namun membangun system proteksi dari Ancaman terhadap Istana ini, terlalu berlebihan. Mengingat terorisme identik dengan fasilitas asing ketimbang simbol-simbol negaranya sendiri. Selain itu Polri dan pihak Istana juga bisa berkoordinasi untuk lebih mengamankan Istana dan sekitarnya.

Ibarat menyiram api dengan bensin pembangunan pagar istana bukanlah solusi. Justru dengan cara menutup diri seperti ini akan menimbulkan kesan negative pemerintah dimata masyarakat, kecurigaan bahkan mungkin kebencian yang berujung pada terror dan tindak kekerasan. 

lupakah pemerintah dengan tragedi 11 september 2001, kurang canggihkah system keamanan Menara kembar (WTC) saat itu, sehingga dengan mudahnya kedua bangunan super ini diluluhlantakan dengan apa yang mereka sebut Terorris.
Pertanyaan yang terpenting adalah apakah membangun pagar Istana yang menghabiskan biaya super jumbo itu lebih baik dari pada system keamanan yang diterapkan di Word Trade Center?
Bangun Kembali
Umar bin Khattab adalah contoh tipelogi Pemimpin yang amanah, sebagai salah satu wujud sikap amanah beliau memilki sebuah ‘tradisi’ yang tidak semua pemimpin mau melakukannya. Apa itu?. Dia suka berkeliling –pagi, siang atau malam untuk memantau perkembangan dan keadaan dari masyarakat yang dipimpinnya. Saat memantau, dia lebih suka berkeliling sendiri tanpa pengawalan, bahkan dia sangat berani mengambil resiko untuk menyamar. Sehingga masyarakat yang ditemuinya tidak tahu bahwa yang sedang bersama atau kadang berbincang dengan mereka itu adalah seorang Khalifah bernama Umar bin Khattab RA.
Umar bin Khattab RA adlah pemimpin/ Pejabat yang sangat sadar bahwa kelak amanah itu harus dipertanggungjawabkan di “hari Akhir”. Sehingga Umar terbiasa dengan kegiatan berkeliling kota, sendirian. Ketika rata-rata penduduk Madinah terlelap tidur. Untuk mengetahui barangkali ada warga yang lapar, sakit, atau didzalimi pihak lain. Dia khawatir barangkali ada urusan orang yang luput dari perhatiaannya, sedangkan kelak Allah akan menanyainya tentang hal itu.
Ibrah yang dapat diambil dari sepenggal riwayat Umar diatas adalah bahwa seorang pemimpin Ideal adalah pemimpin yang sadar bahwa amanah yang digenggam sebagai pemimpin, pada saatnya akan dimintai pertanggung jawaban, sehingga yang ada dalam benak dan pikirannya adalah bagaimanapun caranya, demi kesejahteraan rakyat , harta benda, jabatan bahkan nyawa sekalipun, siap dikorbankan.
Demi melihat pemimpin yang hidup dan matinya dikorbankan, benar-benar untuk rakyat. Maka rakyat pun akan semakin percaya kepada pemimpinnya. Disaat kepercayaan itu sepenuhnya diberikan, bersamaan dengan itu rasa aman juga akan terwujud.
Itulah mengapa pada saat Umar menjadi Khalifah, beliau tidak butuh pengawalan apalagi pagar Istana karena memang tidak tinggal di Istana, sehingga dalam kehidupannya sebagai Khalifah dia tetap dekat dengan rakyat.

Di tengah kondisi rakayat yang sangat membutuhkan perhatian, pengayoman, kepedulian dan kepekaan social dari pemerintah, sudah seharusnya pemerintah menyelenggarakan pemerintahan yang benar-benar pro-rakyat. Pengentasan kemiskinan, penanggulangan bencana alam, mempererat kesatuan, menghindari perpecahan dan penegakkan keadilan seharusnya menjadi program pemerintah yang harus lebih dulu dan diutamakan.
Dengan adanya program-program pemerintah yang betul-betul pro-rakyat yang disertai dengan niat tulus ikhlas (tanpa pamrih), maka tingkat kepuasan dan tingkat kepercayaan amanah serta rasa hormat rakyat kepada pemerintah pasti akan terwujud. Dan tentunya, dengan ini semua, pemerintah akan terjamin keamanannya. Jangankan terror kekerasan, selentingan-selentingan senewen ala Si buya-pun tidak mungkin akan terdengar kembali.

Senin, Februari 08, 2010

Kenaikan gaji Pejabat :Pro-Rakyat Cap Apa?

Hidup Mewah, Itulah kira-kira gambaran bagi mereka yang dapat menduduki posisi sebagai Pejabat Negara, sehingga orang berlomba-lomba ingin menjadi pejabat di Negara ini. Lihat saja contohnya: Baru 100 hari bekerja, para Menteri (Plus sejumlah pejabat tinggi lainnya) mendapat fasilitas mobil dinas baru dengan bandrol mencapai 1,3 M, kemudian, dalam hitungan hari “ketiban durian” lagi, pejabat Negara siap menerima tambahan gaji sesuai yang telah diputuskan DPR.
Tidak tanggung-tanggung, rencana kenaikan gaji Presiden hingga ke level menteri diperkirakan mencapai 20 persen. Sedangkan DPR menyepakati kenaikan gaji pejabat negara hanya 5 persen (Okezone.com, 29 Januari 2010).

Bukan Solusi
Pemerintah menjadikan “iming-iming” kenaikan gaji sebagai strategi untuk merangsang birokrat (Pejabat) supaya menjadikan pejabat bermoral tinggi, taat pada sumpah jabatan, dan dapat meningkatkan kualitas kerja pejabat serta menghindari praktik-praktik penyalahgunaan kekuasaan.
Tetapi Fakta dilapangan menyatakan lain, Wakil Koordinator Badan Pekerja Indonesia Corruption Watch (ICW) Emerson Yuntho menyatakan, sebagian besar (80 persen) perkara korupsi di Indonesia tergolong korupsi yang rakus (corruption by greed). Indikasinya, pelaku kasus tindak pidana korupsi lebih banyak yang memiliki jabatan daripada pegawai biasa yang melakukan korupsi karena terpaksa (corruption by need) (Jawa Pos 03 Februari 2010)
Dari fakta diatas bisa ditarik benang merah bahwa seorang pejabat yang terbiasa menyalahkan gunakan kekuasaan sebagai sesuatu yang wajar bahkan merupakan suatu keharusan, demi mendapatkan dan menghabiskan uang, kenaikan gaji 10-20 persen, tidak akan berimbas pada perubahan menjadi pejabat yang bermental amanat.
Menyalahi Undang-undang
Menurut Taufik Kiemas (Ketua MPR), Kenaikan gaji bagi para pejabat merupakan suatu hal yang wajar, karena, penghasilan pemerintah saat ini dinilai sudah cukup. Beliau juga menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Negara saat ini sudah mencapai 8 persen, itu artinya bahwa pemerintah sudah memperhatikan rakyatnya.
Selain itu rencana kenaikan gaji pejabat yang dianggarka dalam APBN 2010 ini sanggup memenuhi anggaran untuk kenaikan para pejabat Negara, bahkan, anggaran pengadaan mobil baru pun, APBN masih mampu.
Tetapi permasalahannya bukan terletak pada mampu atau tidak mampu atau bias tidak bisa tetapi masalah pantas atau tidak, mengingat pada RAPBN 2010. Belanja bantuan sosial berkurang Rp 8,7 triliun dari besaran sebelumnya Rp 77,7 triliun. Hal ini terjadi karena Anggaran belanja pegawai yang diambil dari APBN menyebabkan turunnya besaran rencana belanja di pos subsidi dan bantuan sosial
Pada pos belanja subsidi, yang berkurang adalah subsidi pupuk bagi petani dan obat-obatan. Untuk pos belanja bantuan sosial, hampir dipastikan yang berkurang adalah alokasi untuk bantuan jaminan kesehatan masyarakat (jamkesmas).
Dengan kata lain rencana kenaikan Anggaran pada pos anggaran belanja pegawai, secara langsung akan berimplikasi kepada rakyat kecil. Hal ini sangat bertentangan dengan Undang-undang mengingat, bahwa, dana APBN milik Negara itu digunakan sebesar-besarnya untuk memenuhi kebutuhan rakyat.
Anjurkan Untuk selalu melihat kebawah
Rasulullah memerintahkan agar kita melihat orang-orang yang berada dibawah kita dalam masalah Dunia dan matapencaharian, Tujuannya tiada lain agar kita selalu bersyukur dengan nikmat Allah. Selalu qona’ah (merasa cukup dengan apa yang Allah karuniakan kepada kita) tidak serakah tidak pula iri dengki dengan kenikmatan orang lain.
”Lihatlah kepada orang-orang yang berada dibawahmu dan jangan melihat orang yang ada diatasmu, karena hal lebih patut agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu”. (Riwayat Muttafaqun ’alaih).
Gaji pejabat kita hari ini tidak bisa dikategorikan kecil atu kurang, bahkan bisa dikatakan berlebih. Coba kalau kita lihat secara lebih nyata, memang benar gaji presiden dan para birokrat tidak bisa menandingi gaji Gubernur BI yang mencapai Rp 162,2 juta per bulan, tetapi gaji Presiden yang mencapai Rp 62,74 juta perbulan, Sementara menteri Rp 18,64 juta per bulan apakah itu bisa dikatakan kurang atau tidak layak
belum lagi kalau kita Menilik dari laporan kekayaan penyelenggara negara (LKPN) kecenderungan pendapatan pejabat publik juga meningkat tiap tahun. Terlebih sebagian dari pejabat publik itu memiliki sumber penghasilan dari tempat lain.
Sekali lagi perlu ditegaskan, lihatlah yang dibawah, jangan melihat keatas. Dalam kondisi saat ini rakyat kita masih memerlukan banyak perhatian dan santunan dari serta bantuan dan dorongan dari pemerintah, dan bukan saat yang tepat para pejabat untuk meminta yang lebih dari yang sudah diberikan.

 
By Tatang Hidayat

Translate

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Shoutbox

Hidayat. Diberdayakan oleh Blogger.

Label

Recent Comments

 

Copyright © 2009 Fresh Themes Gallery | NdyTeeN. All Rights Reserved. Powered by Blogger and Distributed by Blogtemplate4u .