Selasa, Maret 16, 2010

Aktifkan Kembali Posyandu

Sejak terjadinya krisis mulai tahun 1997 hingga saat ini, kualitas hidup perempuan dan anak masih belum menunjukan peningkatan yang berarti, terutama dibidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, politik, dan hukum serta perlindungan dari tindak kekerasan dan perdagangan orang.
Fenomena tersebut bukanlah tanpa sebab, mengingat saat ini sangat minim atau bahkan bisa dikatakan tidak ada lembaga yang memediasi usaha-usaha pemberdayaan perempuan dan anak dalam rangka peningkatan kualitas hidup.

Pada masa pemerintahan Orde Baru ada program Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) yang biasa kita kenal dengan istilah Posyandu, sebuah lembaga masyarakat yang diharapkan sebagai upaya penghapusan kesenjangan kondisi dan peran antara perempuan dan laki-laki. Di samping itu, pemerintah memberikan fasilitas kepada lembaga kemasyarakatan dalam rangka dukungan terhadap seluruh aktifitas yang dilakukan mereka dalam upaya penguatan lembaga dan jaringan serta kemitraan untuk peningkatan kesejahteraan dan perlindungan perempuan dan anak.
Idealnya model program pembentukan SDM yang baik ini terus diperbaiki dan disempurnakan kemudian diperbaharui secara terus menerus sesuai dengan perkembangan keadaan, bukan dipukul rata untuk diabaikan atau bahkan dihilangkan karena dianggap sebagai produk Orde Baru.

Tradisi Ilmu, Kejatuhan dan kejayaan Suatu Bangsa

Tidak dapat dipungkiri bahwa kaum muslimin sangat maju karena tradisi Ilmunya, bahkan kejayaan ilmu pengetahuan dijaman kejayaan Islam telah mempengaruhi secara signifikan pertumbuhan peradaban barat. Tapi kini umat Islam terjatuh, menjadi bangsa yang tidak disegani bahkan menjadi bulan-bulanan bangsa barat, hal ini mirip dengan apa yang di isyaratkan Nabi 14 abad silam “akan datang suatu masa dimana umat islam ibarat makanan yang diperebutkan”.

Milik Islam
Tradisi ilmu dalam Islam sebenarnya telah diproklamirkan sejak ayat pertama dalam al Qur’an diturunkan. Iqro’, ‘Bacalah” telah merubah sahabat-sahabat Rasulullah dari orang–orang jahiliyyah yang suka mabuk-mabukan, berzina, dan berleha-leha menjadi pemimpin besar dunia yang sangat disegani diseluruh kawasan dunia saat itu.
Pada masa itu tradisi baca dan menulis sangat hidup. Tiap ayat yang diturunkan pada Nabi, segera diajarkan kemudian dihapalkan bahkan Nabi menunjuk Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit dan sahabat yang lain untuk menuliskan setiap ayat al-Qur’an yang turun pada beliau. Bahkan pada masa awal permulaan Islam, tradisi membaca dan menulis menjadi symbol kemuliaan. Ibnu saad mengatakan bahwa orang yang sempurna adalah orang yang dapat menulis, berenang dan melempar panah.
Hal lain yang membuktikan betapa pentingnya budaya baca tulis bagi umat islam adalah, pasca perang badar kubro dimana pada saat itu umat Islam mengalami kemenangan besar, selain harta rampasan perang umat Islam juga berhasil menawan beberapa tentara dari kaum quraisy. Satu hal yang menakjubkan terjadi pada diri Rasulullah beliau memberikan jaminan kebebasan bagi para tawanan yang dapat mengajarkan baca tulis bagi penduduk Madinah.
Semangat para sahabat Nabi dalam mencari Ilmu semakin tinggi, berkat pemahaman terhadap al-Qur’an yang dalam banyak ayat memerintahkan pada umatnya untuk senantiasa menggunakan akalnya. Juga dalam ratusan hadits Nabi berisi pujian terhadap orang-orang yang berilmu. Diantaranya sabda Rasulullah SAW: “Barang saiapa pergi mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya ke Surga”. (HR Imam Ahmad).
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa banyak sahabat yang tinggal di suffah (asrama tempat belajar) jumlah mereka mencapai 900 orang, mereka mempelajari dan metafakkuri setiap ayat yang turun juga hadits-hadits Nabi SAW. Tempat ini ibarat Universitas tempat dimana kaum muslimin menggali ilmu-ilmu keislaman.
Setelah itu, generasi berikutnya juga demikian: Abu bakar Al Anbari membaca setiap pecan sebanyak 10 ribu lembar, sehingga beliau sering sakit dan membawanya pada kematian. Ibnu Al Jauzi menulis lebih dari seribu judul buku. Imam Ahmad pernah menempuh perjalanan ribuan kilometer untuk mendapatkan satu hadits. Imam Syafi’i pernah terjaga semalaman sampai tiba waktu fajar demi mempelajari saru hadits dan satu masalah, begitu juga Al Mizzi, Ibn Katsir, Ibn al Qayyim al Jauziyyah, Ibnu Hajar, al Suyuthi dan ulama besar lainnya, menyisihkan lebih dari 15 jam per hari untuk membaca dan menulis, sehingga melahirkan karya-karya yang monumental setingkat Ensiklopedi.
Wajarlah jika islam pada saat itu menjadi peradaban maju dan kuat karena ditopang oleh manusia-manusia kuat dalam membiasakan tradisi keilmuan dalam kehidupan sehari-hari.
Kejatuhan dan Kejayaan
Prof. Moh Nur Wan Daud menyatakan bahwa kaejayaan atau kejatuhan suatu bangsa tergantung pada kuat atau tidaknya budaya ilmu bangsa itu. Hal ini dapat dibuktikan bahwa suatu individu atau suatu bangsa yang mempunyai kekuasaan atau kekayaan tidak bisa mempertahankan miliknya atau mengembangkannya tanpa budaya ilmu yang baik. Bahkan ia akan bergantung pada orang kepada orang atau bangsa lain yang lebih berilmu. Salah satu contohnya adalah bangsa Yunani, hasil keilmuan bangsa ini mempunyai pengaruh sangat besar terhadap Roma yang nota bene memilki tentara dan rakyat yang lebih besar. Contoh lain, kita juga bisa melihat fenomena tentang Negara-negara minyak yang kaya raya, terpaksa terpaksa bergantung hamper semua aspek penting kehidupan negaranya kepada Negara lain yang lebih maju dari segi keilmuan dan kepakaran.
Di jepang, pendidikan adalah jalan terpenting untuk mendaki tangga kesuksesan. Para remaja dan pelajaran disajikan dengan kisah-kisah keberhasilan orang-rang dari timur dan barat. Contohnya buku “Yukichi Fukuzawa”, galakkan Belajar. Dijual sebanyak 600.000 eksemplar pada tahun 1882. dalam buku itu dijelaskan bahwa; Manusia tidak dilahirkan mulia atau hina,kaya atau miskin, tetapi dilahirkan sama engan yang lain. Barang siapa yang gigih belajar dan menguasai ilmu dengan baik akan menjadi mulia dan kaya, akan tetapi mereka yang jahil akan papa dan hina.
Jadi, tidak ada kata lain bahwa kebangkitan Islam, kebangkitan Negara, masyarakat atau individu muslim mesti dimulai dengan kebangkitan budaya ilmu. Karena kepemimpinan yang benar adalah kepemimpinan berpikir, bukan kepemimpinan ekonomi militer. Peradaban dunia saat ini yang mengunggulkan kepemimpinan ekonomi atau militer, maka hasilnya kita lihat adalah peradaban yang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Banayak Negara yang egois dengan nasionalismenya Negara masing-masing, sehingga rela memperdaya Negara-negara lain.
Jadi, jangan bermimpi umat Islam akan memimpin dunia, bila tradisi ilmu belum membudaya dalam masyarakat Islam sendiri

Jumat, Maret 12, 2010

Menanti Figur ‘Wali’ di Pilwali Surabaya

Pemilihan Walikota (pilwali) Surabaya baru akan dilaksanakan pada pertengahan tahun 2010, namun, bursa calon dan hal-hal yang berbau kampanye, mulai terasa dalam beberapa bulan terakhir ini. Hal tersebut bisa dilihat dari banyaknya baliho besar dan spanduk calon Walikota dan Wakil Walikota yang terpampang di sudut-sudut jalan kota Surabaya.
Selain itu, momen lima tahunan ini banyak mengundang perhatian masyarakat Surabaya, karena peluang untuk mendapatkan pemimpin baru sudah dekat. Masyarakat Surabaya berharap Pemilihan Walikota 2010 akan membawa perubahan yang mendasar bagi mereka. Mungkinkah?

Walikota Idaman
Kata “perubahan” menjadi kata kunci yang memicu masyarakat Surabaya antusias menyongsong hajatan ini. Hal ini bisa kita maklumi karena Surabaya adalah kota Metropolitan dengan segudang permasalahan dan memerlukan solusi-solusi cerdas serta komprehensif untuk mengatasinya.
Untuk itu dalam pilwali ini diharapkan muncul calon yang memang benar-benar mampu melihat situasi, menginventarisasi masalah, dan merumuskan serta mewujudkan solusi. Selain itu, yang lebih penting lagi calon walikota itu harus benar-benar ‘wali’, yaitu orang yang sangat menjaga ketaatan kepada Allah SWT, sehingga senantiasa mendapatkan pertolongan Allah Swt.
Tapi, siapakah wali itu?”Ingatlah! Sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak merasa takut dan sedih. Mereka adalah orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira dalam kehidupan dunia dan kehidupan akhirat,” (QS Yunus ayat 10). Dari ayat tersebut, wali adalah orang yang beriman kepada Allah dan apa yang datang dari-Nya (yaitu Al Qur’an dan Hadits), memegang teguh syariat-Nya.
Ibnu Katsir rohimahulloh menafsirkan bahwa para wali Allah adalah orang-orang yang beriman dan bertaqwa. Siapa saja yang bertaqwa maka dia adalah wali Allah (Tafsir Ibnu Katsir, 2/384).
Dari ayat di atas telah jelas apa dan siapa wali itu, tapi pertanyaan selanjutnya adalah mengapa harus wali? Apa urgensinya jika pucuk pimpinan kota surabaya ini di pegang oleh orang yang bertipe wali?.
Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya Allah SWT berfirman
” Barang siapa yang memusuhi para Wali-Ku maka Aku menyatakan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekati-Ku dengan sesuatu yang lebih Kucintai daripada apa yang telah Aku wajibkan. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekati Aku dengan Ibadah sunah sehingga aku mencintainya, maka ketika Aku mencintainya Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Seandainya ia meminta kepada-Ku niscaya akan Ku-beri seandainya dia memohon perlindungan-Ku pasti Aku akan melindunginya”
Hadits Qudsi diatas menjadi jawaban akan pentingnya seorang pemimpin berfigur wali, karena, sikapnya yang senantiasa menjaga diri dari dosa dan maksiat, hati-hati, serta selalu mendekatkan diri pada Allah SWT sehingga Allah-lah yang menjadi Penjaganya. Allah mengatur hati dan jasadnya sehingga ia menjadi pemimimpin yang taat kepada Allah SWT.
Disaat dirinya sudah senantiasa dekat dengan Allah, maka selanjutnya dia menginginkan agar seluruh rakyatnya memilki ketaatan yang sama seperti yang telah ia amalkan, kemudian ada usaha yang dilakukan dengan terus-menerus untuk merealisasikan keinginan ini secara istiqomah, maka tidak mustahil nantinya akan telahir masyarakat Madani yang tidak hanya taat pada hukum Allah SWT tetapi juga taat pada hukum Pemerintahan, pada akhirnya akan terbentuk Masyarakat yang Baldatun Toyyibatun Warabbun Gofur.
 
Pilah Lalu Pilih
Pemilihan Walikota Surabaya akan menjadi even yang sia-sia bila masyarakat tidak menyadari akan pentingnya seorang pemimpin. Mengingat dalam satu dekade diberlakukan pemilihan secara langsung (baik Pemilihan legislatif maupun eksekutif), selalu diakhiri dengan dominasi golongan putih (tidak memilih).
Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah sampai pada kesimpulan bahwa memilih pemimpin yang memiliki kriteria di atas (sesuai dengan syari’at) itu wajib bagi Umat Islam. Oleh karena itu, selayaknyalah bagi masyarakat Surabaya yang sebentar lagi akan menghadapi pilwali untuk melihat/meneliti background dari para cawali dan cawawali yang ada, kemudian pilihlah mereka yang sekiranya memiliki kriteria-kriteria yang telah dijelaskan di atas. sehingga, kelak kemudian hari, ketika di antara mereka telah menjadi pejabat, mereka benar-benar mencerminkan sosok ‘wali’ Allah yang memimpin kota metropolitan ini dengan adil dan jujur.

Translate

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Shoutbox

Hidayat. Diberdayakan oleh Blogger.

Recent Comments

 

Copyright © 2009 Fresh Themes Gallery | NdyTeeN. All Rights Reserved. Powered by Blogger and Distributed by Blogtemplate4u .